News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Menyambut Hari Bela Negara ke 72 Tahun 2020 Sejarah Pemancar Radio YBJ-6 di Masa PDRI

Menyambut Hari Bela Negara ke 72 Tahun 2020 Sejarah Pemancar Radio YBJ-6 di Masa PDRI

keterangan Foto: Pemancara YBJ-6 di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma, di depan Taman Panorama Lobang Japang Kota Bukittinggi

RMT, Bukittinggi, Dalam menyambut peringatan Hari Bela Negara ke 72 tahun 2020, Orari lokal Bukittinggi Agam menulis sejarah singkat “Pemancar radio YBJ-6”, inilah sejarah singkat asal mulanya pemancar radio YBJ-6 yang mengudara memberi kabar kepada dunia.

Tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi kedua terhadap Negara Republik Indonesia seperti yang dialami kota-kota lainnya, maka Kota Bukittinggi merupakan ibukota Provinsi Sumatera juga dapat serangan bom dan senapan mesin dari udara.

Sasaran utamanya adalah perkantoran Pemerintah dan stasiun radio, serangan pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 sebagian pemancar hancur, tetapi pemancar YBJ-6 selamat. Sedangkan tidak seberapa jauh dari kakinya tergeletak sebuah bom yang tidak meledak.

Malam harinya pemancar YBJ-6 dikeluarkan oleh serombongan pemuda PTT (AMPTT) dipimpin oleh Kepala Urusan Radio Kantor Tehnik PTT daerah Sumatera Tengah.
Setelah dilengkapi baik material maupun tenaga, maka rombongan bergerak mundur ke pedalaman langsung dibawah pimpinan Kepala Urusan Radio Kantor Tehnik PTT daerah Sumatera Tengah (Ds.Ardiwinata).
Tujuan pertama yaitu Halaban perkebunan teh di lereng gunung Sago daerah Payakumbuh, esok malamnya tiba di markas Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) dan atas perintah PDRI rombongan berangkat lagi menuju Pauh Tinggi masih di sekitar gunung Sago. 

Sorenya pemancar YBJ-6 sudah dapat berhubungan dengan pemancar lainnya untuk menyampaikan instruksi mengenai pengamanan dan penyingkiran pemancar ke tempat yang lebih aman, karena Bukittinggi dan Baso telah diduduki musuh maka oleh PDRI diperintahkan untuk berangkat ke Bangkinang kemudian diubah menuju Lintau.

Dalam penyingkiran pemancar ini mengalami bermacam-macam kendala, hal ini karena sulitnya medan yang akan dilalui. Hubungan Yogyakarta dengan India terputus, maka pemancar YBJ-6 segera mengambil alih tugas tersebut dan memanggil pemancar India VWX-2 di New Delhi.

Seminggu lamanya YBJ-6 memanggil tanpa hasil karena India sedang monitor dengan Hongkong, Sidney dan stasiun lainnya, akhirnya setelah beberapa hari terus menerus memanggil VWX-2. Maka pada tanggal 17 Januari 1949 pemancar India ini menyahuti panggilan YBJ-6.

Bila VWX-2 berada dalam kota dengan peralatannya yang sempurna, maka YBJ-6 berada di tengah-tengah Bukit Barisan dengan segala kesederhanaannya.
PDRI dan Gubernur Militer segera diberitahukan tentang adanya hubungan tersebut, telegram-telegram untuk perwakilan Republik Indonesia di New Delhi dari ketua PDRI Mr.Syafruddin Prawiranegara mengenai masalah Indonesia untuk disampaikan ke PBB telah bisa dikirim.

Salah satu telegram itu adalah mengenai pengangkatan Mr.Maramis sebagai Menteri Luar Negeri berkuasa penuh dari PDRI.
Dua hari kemudian beliau berpidato melalui corong All India Radio memberitahu pengangkatannya kepada dunia dan seluruh rakyat Indonesia serta menyampaikan beberapa pesan Nehru untuk PDRI.
Musuh menyerbu Halaban dari arah Payakumbuh, YBJ-6 segera dipindahkan ke sebuah desa di lembah batang Sinamar. Perjalanan pemindahan penuh bahaya dan resiko karena harus menyeberangi sebuah sungai yang dihubungi oleh sebuah jembatan gantung usang dari kayu.
Pemancar yang harus dipikul oleh 8 sampai 10 orang, berhasil diseberangkan hanya oleh 4 orang pemuda kampung (BPNK) yang sudah biasa melalui jembatan tersebut sambil membawa barang.

Berdasarkan hal tersebut diatas dan adanya hubungan langsung dengan India, pihak Belanda rupanya selalu memantau kegiatan YBJ-6. 
Syukur lah sebelumnya YBJ-6 sempat dipindahkan ke lokasi lain yang lebih aman, pasukan Belanda yang dikerahkan di front sekitar YBJ-6 dapat di patahkan berkat perlawanan gigih TNI beserta rakyat. 
Belanda sampai ke belakang garis pertahanan hanya kira-kira 1 kilometer dari lokasi YBJ-6, tetapi berkat lindungan Tuhan, YBJ-6 dapat di selamatkan.

Dengan dimulainya perundingan dengan Belanda serta dikembalikannya Kota Yogyakarta kepada Republik Indonesia, YBJ-6 mengadakan kontak langsung dengan Yogyakarta.
Setelah adanya perkembangan normalisasi keamanan, bulan Desember 1949 YBJ-6 kembali ke Bukittinggi. Bulan Januari 1950 YBJ-6 bertugas dan mengudara kembali di Bukittinggi dengan segala kemampuannya. 

(sumber dari : Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma).

Jika berkunjung ke Kota Bukittinggi, dapat melihatnya Pemancar radio YBJ-6 yang disimpan di Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma jalan Panorama nomor 24  Kelurahan Kayu Kubu Kecamatan Guguak Panjang Kota Bukittinggi. (ISWB/TJ)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar