News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Dulu RSSN, Sekarang Rumah Sakit Otak DR Drs M.Hatta (RSOMH) Bukittinggi

Dulu RSSN, Sekarang Rumah Sakit Otak DR Drs M.Hatta (RSOMH) Bukittinggi

keterangan foto: salah satu sudut RSOMH Bukittinggi yang tengah mendapatkan revitalisasi


RMT, Bukittinggi: Rumah Sakit Otak DR Drs. M.Hatta (RSOMH) Bukittinggi merupakan rumah sakit milik pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia yang telah mengalami sejumlah perubahan nama, sebelumnya dikenal sebagai Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi,  pada awalnya adalah Rumah Sakit  Imanuel, kemudian Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP), lalu  berganti nama menjadi Rumah Sakit Pencegahan Penyakit Stroke. Perubahan nama menjadi Rumah Sakit Otak DR. Drs. M.Hatta (RSOMH) Bukittinggi didasari regulasi Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 76 tahun 2019 tentang  Organisasi dan Tata Kerja. Diketahui,  peraturan itu menjadi dasar untuk memberi nama sebuah  rumah sakit tidak boleh dengan nama penyakit, sehingga dewasa ini rumah sakit yang namanya membawa atau termuat nama penyakit segera berganti nama. Penyakit stroke memiliki hubungan erat dengan otak makanya dipilihlah kata otak untuk menggangi RSSN Bukittinggi menjadi RSOMH Bukittinggi.

Keterangan foto: Struktur Organisasi RSOMH Bukittinggi

Hal demikian disampaikan Direktur Utama Rumah Sakit Otak DR. Drs. M.Hatta (RSOMH) Bukittinggi DR. dr. Alsen, Sp.B -KBD,M.A.R.S melalui Kasubbag Hukum,Organisasi, dan Humas Anferi Devitra, SKM, M.A.R.S, Jumat (26/03/2021), selanjutnya mengatakan  RSOMH merupakan rumah sakit khusus otak, namun masih dapat memberikan pelayanan terhadap 40 persen  pelayanan, artinya dapat melayani 40 persen dari total tempat tidur (rawatan) yang dimiliki, serupa diperuntukkan terhadap penyakit jantung, paru, layanan penyakit pada gigi, layanan bagi anak, penyakit mata, penyakit dalam, bahkan akan dibuka layanan terhadap kebidanan. Pada akhirnya, RSOMH memiliki 143 tempat tidur bagi pasien diluar penyakit stroke. 

Keterangan foto: Kasubbag Hukum, Organisasi dan Humas RSOMH Bukittinggi Anferi Devitra, SKM, MARS ketika diwawancara awak media


Disebutkan, penyakit otak atau stroke ini sebetulnya penyakit yang memerlukan penanganan dari multi disiplin ilmu,  dikarenakan adanya penyumbatan atau gangguan pembuluh darah ke kepala, makanya  memberikan imbas pada anggota tubuh lain,  jika seseorang telah menderita Stroke maka jiwanya akan ikut terdampak oleh karena itu terdapat dokter spesialis jiwa di RSOMH Bukittinggi ini, begitu juga halnya dampak yang ditimbulkan pada paru, dan penyakit dalam lainnya, alhasil penanganannya perlu tindak lanjut dari sejumlah penyebab.

Ia menambahkan nama DR. Drs. M.Hatta termuat pada nama rumah sakit ini telah didasari oleh kajian dan pendalaman, dikarenakan kota Bukittinggi identik dengan figur sang proklamator Bung Hatta.  Perubahan nama dari Rumah Sakit Stroke Nasional (RSSN) Bukittinggi menjadi Rumah Sakit Otak DR.Drs. M.Hatta (RSOMH) Bukittinggi diterima pihak manajemen pada Oktober 2019 lalu, akan tetapi munculnya pandemi virus corona memberikan pertimbangan untuk pelaksanaan prosesi perubahan nama melalui kegiatan seremoni, lantaran  pembatasan keramaian dan indikator protokol kesehatan. Padahal,  pihak manajemen telah mempersiapkan rangkaiannya, ia tetap optimis agenda prosesi perubahan nama  akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

" makanya Rumah Sakit Otak DR Drs M.Hatta (RSOMH) Bukittinggi ini berganti nama karena tidak diperbolehkan membawa nama penyakit, kita bersepakat memasukan dan memilih nama proklamator Bung Hatta agar    figur beliau tetap dikenal dan dikenang, identik dengan kota Bukittinggi sebagai kota kelahirannya,"ucapnya

Keterangan foto: salah seorang petugas RSOMH Bukittinggi berikan pelayanan informasi publik

Diterangkan, pihak rumah sakit ini ingin stake holder memahami seluk beluk tentang penyakit stroke,  dikarenakan seseorang dapat tiba - tiba terserang penyakit tersebut.  Anferi Devitra menyebutkan para tenaga medis di RSOMH Bukittinggi berupaya untuk memberikan informasi untuk menghindari terjadinya penyakit stroke dan mengenali gejala penyakit stroke. Hal demikian jelas mempengaruhi upaya dan tahapan penanganan terhadap pasien,  jika menemukan seseorang yang tiba-tiba bibirnya tidak simetris (mencong), anggota tubuh menjadi lemah, lidah pelo maka segera membawa ke rumah sakit ini, penyakit stroke memang dikuatkan dengan kondisi tiba - tiba mengalami gejala seperti tadi. Pihaknya yang mencontohkan, seseorang yang tengah makan, atau beraktivitas  tiba - tiba  mulutnya mencong,  badan melemah dan tidak bisa digerakan atau diangkat, ada indikasi terjadi penyumbatan di pembuluh darahnya. 

Keterangan foto: Dua orang tenaga security RSOMH Bukittinggi siap berikan pelayanan keamanan dan kenyamanan

Rumah Sakit Otak DR.Drs. M.Hatta (RSOMH) Bukittinggi mengupayakan penanganan prima terhadap pelayanan kesehatan, pada penyakit stroke bahwa seseorang yang tiba - tiba mendapatkan gejala tadi harus dilarikan ke rumah sakit ini dikarena metode trombolisis  dicermati mampu mengantisipasi dampak lain dari penyakit stroke,  maka seseorang yang mengalami penyakit stroke cenderung  berdampak pada hal lain ditubuhnya, bagi sebagian orang dikatakan "masuak lumpuah, kalua lepai". Trombolisis membantu untuk melepaskan penyumbatan di pembuluh darah sehingga tidak berimbas pada anggota tubuh lainnya, namun waktu seseorang yang tiba- tiba mengalami gejala stroke harus jelas. Jika menemukan  gejala tersebut, jangan tunggu lama, segerlah mengantarkan pasien ke rumah sakit. Kecenderungan di tengah masyarakat mengkaitkan dengan hal yang terkadang tidak punya landasan ilmu dan kajian ilmiah, serupa ada istilah tasapo, tertegun dan sebagainya, jika upaya medis mampu mencegah dampak terburuk tentu patut dilaksanakan secepatnya. Dikatakan, terkadang ada keluarga pasien yang mengulur waktu, alasan memanggil keluarga pasien lah, anak pasien lah dan lain- lain, padahal dengan cepatnya pasien memperoleh kejelasan di rumah sakit maka  pasien lebih aman.

" nah, memang kita temui itu, ketika ada seseorang yang memiliki gejala stroke malah didiamkan oleh anggota keluarganya, dibilang tasapo, mamjiak anak makhluk penunggu, padahal jika segera dibawa ke rumah sakit kita, tentu jelas ditangani penyembuhannya,  terpenting bawa dulu segera ke rumah sakit baru ditindaklanjuti tahapan yang berlangsung itu serupa adiministrasi, makannya dengan trombolisis harus jelas waktu pasien sudah berapa lama mengalami gejala tiba - tiba tadi,"ujarnya

Keterangan foto: penerapan protokol kesehatan masih diberlakukan di RSOMH Bukittinggi


Anferi Devitra mengajak  masyarakat menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) guna menghindari indikasi terpapar penyakit stroke,  pola hidup atau kebiasaan yang salah dalam keseharian memicu tiba - tiba seseorang menderita stroke, semisalnya menghindari konsumsi rokok,  tidak stres dari persoalan, menjaga kadar kolesterol, tekanan darah yang sesuai indikator dan  pencermatan lainnya.  Nah, seseorang diminta untuk rileksasi pikiran dengan liburan atau melakukan hal yang menyenangkan gunanya agar tidak stres, jangan sampai aliran darah tidak lancar, ditambah konsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat memperparah  metabolisme   dalam diri dan siklus peredaran darah.

Keterangan foto: media memiliki peran untuk edukasi kesehatan bagi masyarakat

Seseorang yang memiliki riwayat hipertensi jika salah menerapkan pola hidup juga  akan berimbas pada penyakit lainnya,  serupa stroke.  Lebih lanjut disampaikan, seseorang harus mampu mengendalikan emosi, perasaan dan pikiran agar tidak menambah kerja otak juga jantung terhadap pasokan serta aliran darah.
(MAINDO/TJ)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar