News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Jesigo Siapa yang Punya, Jeruk Siam Gunuang Omeh

Jesigo Siapa yang Punya, Jeruk Siam Gunuang Omeh

Keterangan foto: Jeruk Siam Gunuang Omeh (Jesigo)

RMT, Limapuluh Kota: Gunuang Omeh merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Letak dan kondisi geografisnya strategis untuk dikunjungi, dikarenakan dapat menghubungkan 3 kabupaten yang ada di Sumatera Barat yakni Limapuluh Kota, Kabupaten Agam dan Kabupaten Pasaman. Namun, infrastruktur jalan dan jaringan telekomunikasi serta  informatika  memang perlu ditindaklanjuti oleh pihak berkepentingan, guna kemajuan daerah sejalah dengan peningkatan derajat perekonimian masyarakat.

Disamping memiliki beragam potensi alam serupa air terjun, goa, talempong batu, museum, tugu dan panorama alam yang memikat mata setiap orang yang datang dan berada di wilayah ini, keberadaan hasil perkebunan jeruk yang diupayakan warga setempat menjadi pamor luar biasa hingga nama Jeruk Siam Gunuang Omeh (Jesigo) terkenal dan menjadi produk komoditi strategis pasar.

Keterangan foto:Yasma Indrawati ketika menyusun buah jeruk dagangannya

Yasma Indrawati (55), salah seorang warga Jorong Sungai Dadok Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh, ketika ditemui RRI mengatakan dirinya bersama keluarga sudah cukup lama menekuni pembudidayaan Jeruk Siam Gunuang Omeh (Jesigo), saat ini terdapat lebih 150 batang pohon jeruk yang ditanam diseputaran rumahnya pun sudah berbuah dan dipanen.  Dikatakan, jeruk manis ini baru dapat membantu perekonomian untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak, dikarenakan harga  jual komoditi tersebut dinilai belum stabil.  Ia ingin para pembeli partai besar yang disebut toke menetapkan satu harga  terhadap buah jeruk yang dihasilkan petani, sehingga mampu diseimbangkan dengan biaya produksi dan keuntungan.

Keterangan foto: Gerbang masuk ke Kampung Wisata Saribu Gonjong (Sarugo)

Buk As sapaan akrabnya menyebutkan jika harga jual jeruk berada di angka Rp 15.000/Kg maka nomimal rupiah tersebut ideal untuk keberlangsungan budidaya dan perekonomian petani jeruk. Pasalnya,  petani jeruk harus mensiasati kebutuhan pupuk dan racun hama  dengan keuntungan yang diperoleh.

“manjua iko, iyo dalam kini ko iyo, nak. Baa namonyo, olun bisa awak ma apokan. Horogo de olun stabil le ha,kadang toke ko lain, toke ko lain itu ha,baitu ha,  handaknye satu toke, satu pasaran handanye, baitu ha,”ujarnya

“limo boleh ribu  jadi lah sakilo, itu lah. Itu, itu bisa dapek awak sangenek, boli pupuak, boli racun, lah lobiah pupuak lah lobiah racun,  pupuak jo racun maha, nak,”tambahnya

Dirinya akui jarak tempuh untuk menunju kawasan tempat tinggal dan perkebunan jeruk ini cukup jauh ditambah dengan kondisi jalan yang memang butuh perbaikan dan peningkatan kualitas agar memudahkan pengunjung untuk datang  dan berwisata agro.  Faktanya, sekarang dampak kondisi itu  harga jual jeruk Jesigo yang dipanennya itu malah dikurangi, agar pengunjung merasa puas dikarenakan butuh usaha untuk datang ke lokasi.

“dikurangi nan lai, awak dek jauah di siko,”ucapnya

Diketahui, Jorong Sungai Dadok Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Limapuluh Kota  saat ini namanya lebih dikenal publik, lantaran Keberadaan Rumah Gadang yang tersebar di kawasan ini masih dipelihara dengan baik oleh masyarakat, berkat binaan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat berhasil menempati juarai 2 Anugerah Pesona Indonesia (API) Award tahun 2020 untuk kategori Kampung Adat terpopuler terhadap Kampung Wisata Saribu Gonjong (Sarugo). Perolehan dan capaian prestasi itu jelas diharapkan memberikan dampak positif bagi aktivitas dan rutinitas masyarakat, seraya kemajuan kampung halaman. Jika jalan raya sudah representatif dan didukung tersedianya jaringan telekomunikasi dan informatika yang memadai maka dinilai mempengaruhi pengembangan sektor perkebunan jeruk Jesigo.

Yasma Indrawati optimis teknologi komunikasi dan informasi serupa pemanfaatan telepon dan internet ikut memberikan dampak positif bagi jual beli jeruk, dikarenakan dapat dikolaborasikan dengan penjualan berbasis online dan pemasaran kekinian.

“iyo lah, nak. Kalau jalan lah rancak ka siko, iyo di siko indak ado sinyal telepon jo internet internet tu ha. Kalau lah ado, bisa lo kami jua online kecek urang, kami ndak punyo hp nan bacukuia – cukia tu, bisa lo kami  bali handphone mode tu,”

“ Alhamdulillah bana, harapan kami tantu kami ingin jalan sampai  ka bukik-bukik tu dirancak an, bia maju kampuang kami ko, nak”katanya

Masyarakat jorong Sungai Dadok Nagari Koto Tinggi Kecamatan Gunuang Omeh ini terbukti ramah dalam menyambut tamu yang datang untuk menikmati pesona alam dan destinasi yang ada, dikarenakan tatanan kehidupan masih dilandasi dengan kekeluargaan yang sangat erat, begitu juga semangat untuk meraih pembaharuan, ide atau gagasan yang ditujukan untuk keberhasilan diterima dengan tangan terbuka. Hal itu tampak dan dirasakan ketika, tanggapan buk As terhadap pertanyaan, apakah ibu bersedia untuk mengolah buah jeruk Jesigo menjadi produk turunannya selain pengunjung menikmati langsung bulir buah berasa manis tersebut, dikarenakan belajar dari daerah lain yang penghasil beraneka macam buah, produk kuliner lainnya mampu diproduksi dengan pengolahan bahan baku  buah, serupa sirup jeruk jesigo, selai jeruk jesigo dan produk lainnya.

Dirinya berminat jika terdapat program pengolahan seperti itu, dikarenakan dari buah jeruk yang dipanen masih ditemukan  jeruk yang tidak dimanfaatkan secara baik. Dikatakan, pemerintah perlu menindaklanjuti ide atau gaggasan tersebut, supaya masyarakat mendapatkan inovasi dan produk kreativitas.

“iyo, itulah handaknyo buek pabrik-pabriknyo, sarupo iko, buah pacah-pacah sangik, ciek-ciek buahnyo, kalo dijua limo ribu kan rugi kami, makonyo dibuek pabrik untuk mambuek sirup atau produk tu, bisa juo kami bauntuang”ujarnya

Keterangan foto: Buah Jeruk Jesigo telah melegenda

Hal senada disampaikan Ong Tanjung, dirinya sudah 17 tahun berkonsentrasi membudidayakan tanaman jeruk Jesigo.  Disamping itu, persoalan hama yang menyerang tanamannya perlu disikapi oleh Pemerintah daerah melalui dinas terkait, bagaimana pamor jeruk Gunuang Omeh ini tetap eksis dan diakui publik hingga ke luar Kabupaten Limapuluh Kota.

“iyo, kini ko kami terkendala dengan hama, pak. Kami ingin namo buah jeruk ko sajak dulu tetap bangkit dan terkenal”ucapnya

Keterangan foto: Pak Ong Tanjung tengah melayani pembeli

Pak Ong Tanjung menginginkan ruas jalan sebagai sarana transportasi warga dan pengunjung ditingkatkan, apakah diperlebar dan diperbaiki kerusakannya. Jika akses publik itu telah representatif maka tingkat kunjungan akan terus bertambah, hingga geliat budidaya jeruk pun berimbas positif.

“kan, apak liek bana, kondisi jalan pas kamari, kalau dipelokan, kan rancak, labiah mudah urang ka mari,”tambahnya

Keterangan foto: Buah jeruk ini mampu menjadi tumpuan ekonomi warga

Jeruk saat ini memang dibutuhkan untuk dikonsumsi, apalagi ditengah pandemic covid-19, kandungan vitamin c alami yang terkandung ikut membantu mempertahankan dan meningkatkan daya tahan tubuh seseorang  guna melawan paparan virus dan bakteri. Buah jeruk dikonsumsi dengan berbagai cara, baik dimakan langsung ketika kulitnya dikelupas, atau dipisahkan menjadi bahan minuman jus atau jeruk peras. Ketika, terik mentari terasa menyengat hingga membuat haus dahaga, maka buah jeruk mampu menjadi solusi tepatnya. Akan tetapi tetap bijak mencukupi takaran konsumsinya, apalagi yang memiliki pembatasan terhadap seseorang yang memiliki gangguan  pada lambung dan pencernaannya.

Jika anda berminat berkunjunglah ke Kampuang Wisata Sarugo dan Agro Wisata Jesigo di Kecamatan Gunuang Omeh Kabupaten Limapuluh Kota, Saya Ahmat Ikhsan untuk Radio Republik Indonesia Bukittinggi

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar